Dengan Empu-Nya nama Allah, Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya, Ar Rahman Ar Rahim.
Aku berkata-kata dengan fitrah jati diriku sendiri.
Fitrah adalah asal kejadian. Fitrah adalah kesucian.
Jati diri adalah sirrun ma’nawiyun. Rasa yang bermakna.
Rasa yang didalamnya diisi Allah fitrah.
Diisi benih gaib sucinya manusia yang dicipta oleh Allah dari Fitrah-Nya.
Benih gaib sucinya manusia yang dipercikkan oleh Allah dari Nur Muhammad.
Nur Muhammad adalah Cahaya Terpuji-Nya Dzatullah.
Yang Cahaya dengan Dzat-Nya bagaikan kertas dan putihnya.
Bagaikan samudra dengan gelombangnya.
Bagaikan sifat dengan mausufnya.
Kekal menyatu dengan Dzat-Nya karena Nur Muhammad adalah Wajhullah.
Berpuluh ribu tahun lamanya jati diri manusia ini.
Yaitu rasa yang telah diperciki Nur Muhammad-Nya Ilaahi ini.
Pada martabat alam hakikatul insan di alam Dzar (Alam Cahaya Tuhan).
Yang dirasakan hanya satu.
Yakni merasakan betapa nikmat dan betapa indahnya menyaksikan Ada dan Wujud Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya.
Yang karena di bumi tidak akan pernah ngejawantah, berfirman:
”Innani Ana Allah” dalam QS. Thaha ayat 14.
Sesungguhnya Aku ini adalah Aku (Dzat Al Ghayb yang nama-Ku) Allah.
Karena itulah maka Allah mengingatkan dengan firman-Nya, QS. Al A’raf ayat 172.
Bahwa ketika Allah (hendak) melahirkan anak keturunan Adam dari sulbi mereka, Allah mengambil kesaksian tehadap jati diri mereka dengan firman-Nya:
”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Semua menjawab sama:
”Benar, kami semua menyaksikan Engkaulah satu-satuNya Tuhanku”
(Dikala itu memang yang nampak Wujud, Nyata dan Ada, memang hanya satu.
Yaitu Diri-Nya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya.
Selain-Nya belum ada).
Allah melakukan hal itu agar nanti pada hari kiyamat.
Hari manusia bangkit tegak kesadarannya.
Yakni ketika merasakan mati.
Sebab ketika masih berada di dunia yang pasti tidak penah bangkit kesadarannya.
Di gelapkan oleh mimpi-mimpi gelap.
Karena nafsu dan watak akunya yang menjadi komandan hidupnya.
Di hari kiyamat saat manusia benar-benar bangkit kesadarannya.
Tidak ada alasan mengelak dengan berkata:
”Sesungguhnya kami (anak keturunan Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini” (terhadap mengada-Nya Dzatullah Yang Al Ghayb Mutlak Wujud-Nya dan amat sangat dekat sekali dalam rasa hati, meliputi serta menyertai hamba-hambaNya sejagad raya).
Dalam QS. Ar Rum ayat 30 dengan firman-Nya Allah memberikan perintah.
Fa aqim wajhaka li ad-diini haniifa…
Fa aqim adalah fiil amar. Perintah. Dan perintah Allah apabila tidak dipenuhi, resikonya azab.
Maka hadapkan wajahmu (wajah lahir dan wajah batin) dengan lurus kepada ad Din (Nya Allah).
(Makna hakiki ad-din adalah al khudhu’ al mutlak. Berpasrah bongkokan secara mutlak kepada Allah, tanpa reserva).
(Tetaplah) atas Fitrah Allah yang telah menciptakan (fitrah jati diri) manusia dari Fitrah-Nya.
Tidak ada perubahan pada penciptaan Allah bahwa fitrah jatidirinya manusia dicipta Allah dari Fitrah-Nya.
Itulah agama yang lurus. (Hingga jedug/tembus dengan Diri-Nya Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya.
Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Dari martabat hakikatul insan.
Fitrah jati diri manusia ditempatkan Allah dalam martabat alam arwah.
Fitrah jati diri manusia dimasukkan Allah ke dalam roh.
Martabat alam hakikatul insan dan martabat alam arwah, semua masih berada di alam Dzar. Alam Cahaya Tuhan.
Roh yang min amri Rabbi.
Roh yang adalah urusan Allah. Hak-Nya Allah. Milik-Nya Allah. Daya Kuat-Nya Allah.
Daya itu kebisaan (asal kata bisa) dan kepunyaan (asal kata punya).
Kuat itu kekuatan. Semua hak-Nya Allah.
Dimasukkannya fitrah jati diri manusia ke dalam martabat alam arwah ini maksud Allah agar Ruh Ilaahi yang menjadi sumber daya dan kuat mendorong dan mensemangati manusia untuk berniat dan bertekad kembali kepada asal kejadiannya.
Namun ketika diberi kesempatan diuji dengan wujudnya jiwaraga di dalam kehidupan dunia, berbalik 180 derajad.
Daya dan kuat yang itu sumbernya dari Ruh-Nya Ilaahi dijadikan untuk habis-habisan memburu uceng tetapi benar-benar kehilangan deleg.
Uceng adalah simbul nikmat pemberian Allah.
Apakah itu nikmat bangsa dunia apakah itu nikmat bangsa akherat.
Pamrihnya yang ingin diperoleh dan dinikmati.
Tetapi kepada deleg sebagai simbul Diri-Nya Dzat Al-Ghayb Yang sumber segala.
Sang Pemberi nikmat.
Sama sekali tidak butuh.
Sedang hal demikian diancam oleh firman Allah.
”Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap (tidak berkehendak) bertemu dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa cukup tenteram dengan kehidupan dunia itu;
dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,
mereka itu tempatnya adalah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (QS. Yunus ayat 7 dan 8).
Wa dhahiruhu min qibalihil azab. (QS. Al Hadid: 13).
Hidupnya hanya mengikut kepentingan-kepentingan yang lahir saja.
Dikomandani nafsu dan watak akunya.
Maka azablah yang pasti diperolehnya.
Karena sama sekali tidak berkehendak bertemu Tuhannya.
Oleh Allah dibiarkan bergelimang dengan kesesatannya. (QS. Yunus: 11).
Dari martabat alam arwah oleh Allah lalu ditempatkan pada martabat alam mitsal.
Masih berada di alam Dzar. Berada di alam Cahaya Tuhan.
Dan apa yang ada di alam mitsal ini.
Semua akan terstruktur dalam diri manusia di dunia.
Misalnya tentang firman Allah yang menawarkan amanahnya kepada langit, bumi, dan semua gunung.
Mereka semua menolak takut resikonya sekiranya tidak bisa memenuhinya.
Kemudian manusia-lah yang bersedia memikulnya.
Dan kesediaan manusia memikul amanat-Nya ini, oleh Allah tidak dipuji.
Justru malah divonis: ”Innahu kaana dzaluman jahula” (QS. AL Ahzab 72).
Manusia yang bersedia memikul amanah Allah, ketika itu.
Masih dalam keadaan sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al Insan ayat 1.
”Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dan satu masa,
sedang ketika itu dia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut”.
Itulah sebabnya mengapa bersedia memikul amanat Allah.
Sebagai mahluk, sama sekali tidak mengetahui bahwa akan diproses Allah dalam kehidupan berjiwaraga dengan dunia sebagai ujiannya.
Dan bentuk ujiannya sungguh sangatlah berat.
Sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Ali Imran ayat 14.
”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa saja yang diingini.
Yaitu: wanita (dan juga sebagai simbul keterpesonaan yang menghanyutkan).
Anak-anak, harta yang melimpah dari jenis emas dan perak, kuda pilihan (lambang status sosial), binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia (yang diburu dan dikejar habis-habisan dengan berbagai macam cara dan jalan, dituhankan).
Ayat yang menjadi penutupnya sama sekali dilenyapkan.
Dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
Manusia dengan ujian dunia ternyata juga (yang banyak) tidak pernah menyadari telah divonis Allah Innahu kaana dzaluman jahula. Benar-benar jahil dan benar-benar bodoh.
Watak dan pandangan hidup yang menyertainya justru melebihi batas.
Karena memandang dirinya serba cukup. (QS. Al ’Alaq: 6-7).
Tanpa dengan Tuhan Dzat Yang Maha Mutlak Wujud-Nya dan dekat sekali yang mestinya mudah diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati.
Telah merasa cukup.
Merasa telah cukup bisa dan cukup mengerti.
Mengatur dan mengelola garapan dunia tanpa Tuhan Yang menciptakan.
Pada martabat alam mitsal yang akan terstruktur di dalam diri manusia di dunia.
Misalnya adalah ketika Allah mengumpulkan para malaikat-Nya.
Oleh karena Dia adalah Dzat Yang Al-Ghayb Yang sama sekali tidak akan pernah ngejawantah di muka bumi.
Padahal Ada dan Wujud-Nya Dzat Yang AL-Ghayb itu mau-Nya Allah supaya dima’rifati sebagai Hak Mutlak-Nya.
(Awwalu wajibin ’ala al insan ma’rifatullah bistiqan).
Sebenarnya kewajiban yang pertama bagi manusia itu adalah mema’rifati (mengenal dan mengetahui) Diri-Nya Allah Dzat Al-Ghayb dan dekat sekali, seyakin-yakinnya.
Tempat asal fitrah jati diri manusia dicipta oleh-Nya dan tempat kembalinya.
Dan bagaimana jalan lurus yang harus ditempuh untuk dapat selamat kembali kepada-Nya.
Maka Allah berfirman kepada semua malaikat-Nya bahwa untuk hal di atas Allah akan membuat wakil di bumi.
Para Malaikat yang semula mempertanyakan mengapa memilih wakilnya di bumi berupa manusia yang perbuatannya hanya membuat kerusakan di bumi dan saling menumpahkan darah.
Dijawab Allah Aku lebih mengerti dari pada kamu.
Para Malaikat yang memang dikehendaki Allah taat.
Dengan rela menerima perintah-Nya supaya sujud kepada wakil-Nya.
Sujud dalam pengertian menghormati dan menghargai.
Kecuali iblis…
Dan iblis yang dicampakkan oleh Allah dan ditetapkan sesat ini.
Tidak berhenti disitu. Bahkan menentang dihadapan Allah dan sesumbar:
”Yaa Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (indah dan benar perbuatan yang sebenarnya sama sekali salah di hadapan Allah) di muka bumi,
dan pasti aku (dengan sangat mudah) akan menyesatkan mereka semuanya.
Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka”.
(QS. Al Hijr: 28-40).
Dalam sebuah hadits qudsi Junjungan Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Al Ikhlasu sirri min sirri.
Ikhlas itu adalah rahasia rasa daripada rasa yang merasakan indahnya Ada dan Wujud-Ku.
Istauda’tuhu qalba man uhibbu min ’ibaadi.
Hanya Aku letakkan di dalam hatinya orang yang Aku cintai di antara hamba-hambaKu.
Martabat alam mitsal yang terstruktur dalam diri manusia.
Di dalam diri manusia, di dalam dadanya.
Ada dua hati. Hati sanubari dan hati nurani.
Di dalam QS. Al Ahzab ayat 4 Allah berfirman:
Bahwa Allah sekali-kali tidak akan menjadikan (berfungsinya) bagi seseorang dua buah hati dalam rongga (dadanya).
Hati itu adalah hati sanubari dan hati nurani.
Hati sanubari dibuat Allah dari secuil daging sebesar daun semanggi
dibelah dua nempel di tulang rusuk terakhir kira-kira dua jari di bawah susu kiri.
Karena dijadikan Allah dari secuil daging, maka yang dikembang suburkan adalah peradaban daging. Nafsu bangsa hewan. Menjadilah hewan yang berakal.
Hati sanubari ini markasnya nafsu lawwamah.
Arti lawwamah menyesal.
Selama menjalani kehidupan dunia hanya menurut kemauan hati sanubari akan menyesal. Menyesal selama-lamanya sewaktu-waktu mati yang pasti ditemui dan dirasakan.
Ingin kembali ke dunia meluruskan salahnya, dihalangi.
Sebab jasad yang mestinya sebagai tunggangan mengamalkan kebenaran mutlak-Nya Allah telah hancur dikubur.
Nasi telah menjadi bubur. Sesal kemudian tidak berguna.
Bala tentaranya nafsu lawwamah ini ada yang wataknya seperti iblis.
Abaa wastakbara. Ana khairun minhu. Memandang dirinya lebih baik dari siapapun bahkan meskipun terhadap utusan Allah. Karena itu arogan. Sombong. Takabur. Semuci. Melebihi batas. Serakah angah-angah. Senang mencari aib orang lain. Mencela. Menghina sesama dsb-dsb.
Hanya bisa dilerepkan (dilenyapkan) oleh dzikir itsbat.
Dzikir yang menetapkan di dalam rasa hati bahwa Yang Wujud dan Yang Ada hanyalah Diri-Nya Dzatullah Yang Al-Ghayb dengan cara selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati.
(Maksud kalimah itsbat: illa Allah).
Dan apabila hati sanubari yang berkuasa di dalam dada.
Yang ada adalah sebagaimana firman Allah dalam QS. An Naas ayat 4-6.
Jahatnya (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.
Yang membisikkan kejahatan di dalam dada manusia.
Dari jin dan manusia.
Iblis adalah mahluk dari golongan Jin. (QS. Al Kahfi: 50).
Dan manusia yang min nutfah dicipta akan tetapi ternyata hanyalah menjadi penentang yang terang-terangan.
Penentang kehendak Allah. Penentang perintah-perintahNya. Penentang petunjuk-Nya.
Hal yang oleh Allah disebut jahat.
Dan selama hati sanubari yang menjadi markasnya nafsu lawwamah yang berkuasa.
Maka hati nuraninya dengan sendirinya sama sekali tidak akan pernah berfungsi.
Hati nurani adalah hati yang oleh Allah dibuat dari cahaya.
Dari Cahaya Terpuji-Nya Dzatullah.
Letaknya tepat ditengah-tengah dada. Tandanya deg-deg.
Tidak bisa dilihat oleh mata kepala.
Hati nurani ini manakala berfungsi.
Melaksanakan bagusnya kewajiban syareat (yang menjadi kewajiban jasad), diniatkan untuk berjalan menuju kepada Tuhan sehingga sampai.
Ingat, syareat akar katanya syara’a.
Artinya membentuk jalan menuju kepada sumber.
Sumber segala sumber adalah Diri-Nya Ilaahi Dzat AL-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya.
Karena itu kewajiban hati nurani ini adalah melaksanakan tarekat.
Tarekat itu jalan.
Jalan menuju kepada Allah sehingga sampai.
Karena yang dituju Tuhan, maka hati ini harus selalu ingat kepada yang dituju.
Karena itu seyakinnya harus memiliki ilmu mengenal dan mengetahui Diri-Nya Ilaahi Dzat yang Al-Ghayb dan dekat sekali, Meliputi dan Menyertai.
Hati nurani yang dibuat Allah dari cahaya sama dengan para malaikat-Nya yang juga dibuat Allah dari cahaya. Cahaya Terpuji-Nya Allah sendiri.
Adalah sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:
”Kalau sekiranya syaitan itu tidak mengerumuni hatinya anak cucu Adam, pastilah mereka dapat menyaksikan para Malaikat-Nya Allah di langit”.
Demikian halnya firman Allah dalam QS. An Nisa’ ayat 83:
Kalau sekiranya kamu tidak Aku tarik dengan fadhal dan rahmat-Ku, pastilah kamu mengikut syaitan, kecuali sedikit.
Hati yang tidak dikerumuni syaitan kemudian hidupnya tidak habis menjadi pengikut syaitan apabila hati nuraninya berfungsi.
Dari martabat alam mitsal oleh Allah lalu dimasukkan ke dalam martabat alam ajsam.
Masih berada di alam Dzar. Di alam Cahaya Tuhan.
Yakni ketika bakal manusia diproses Allah di perut ibunya.
Dalam sebuah haditsnya Junjungan Nabi Muhammad SAW bersabda.
Bahwa proses itu selama 40 hari berupa air. 40 hari lagi berupa segumpal darah. 40 hari kemudian berupa segumpal daging. Kemudian dimasukkan Ruh-Nya Allah kedalamnya, dan ditetapkan sekali tulisan tentang rezkinya, umurnya, ajalnya dan tentang nasib baik dan buruknya, oleh Allah.
Dan agar manusia menyadari zalimnya, bodohnya, apesnya, hina dinanya, al faqirnya, tidak ada apa-apanya hingga bangkit kesadarannya butuh kepada Tuhannya Yang tidak pernah apes. Tidak mempunyai kekurangan suatu apa, segala-galaNya, agar menjadi tempat bergantung dan berpasrah diri, maka Junjungan Nabi meneruskan sabdanya:
”Sesungguhnya salah satu di antara kamu sungguh telah mengamalkan amal perbuatan ahli surga sehingga antaramu dan surga tidak ada satu hasta, tetapi tulisan telah menetapkan bahwa kamu adalah ahli neraka, lalu mengerjakan perbuatan ahli neraka, maka masuklah kamu ke dalamnya.
Begitu juga sebaliknya. Sesungguhnya di antara kamu telah mengamalkan amal perbuatan ahli neraka sehingga antaramu dan neraka (saking dekatnya) tidak ada satu hasta, akan tetapi tulisan telah menetapkan bahwa kamu ahli surga, lalu mengamalkan amal perbuatan ahli surga, maka masuklah kamu ke dalamnya”.
Karena itu kepada ahli ’arif billah diajarkan bahwa siapa yang benar lalu mengaku dan merasa benar itu derajatnya lebih rendah dibandingkan dengan orang salah lalu sadar mengakui salah.
Orang yang benar dan kemudian merasa dan mengaku benar, mandeg disini. Bahkan penyakit bangga dan takabur akan menghiasi watak dan perilakunya. Tidak akan dijadikan lapang dada. Tidak bisa menerima kenyataan dan masukan dari lainnya.
Sedang yang salah lalu mengaku salahnya, akan terjadilah proses memperbaiki dan membangun diri. Koreksi diri. Mawas diri. Instrospeksi diri akan berjalan seiring dengan ridha dan maghfirah-Nya Allah Swt.
Martabat berikutnya (terakhir) adalah martabat insan kamil. Tetap berada di alam Dzar. Alam Cahaya Tuhan. Sebab batinnya insan kamil (hati nurani roh dan rasanya) selalu berada di situ. Berada di dalam Cahaya Terpuji-Nya Dzatullah. Meski tetap sebagaimana layaknya manusia biasa.
Hati nurani, roh dan rasanya dibuka Allah seyakinnya mengetahui dan telah menjelajah mulai dari Martabat Alam Ahadiyat. Martabat Alam Wahdat. Martabat Alam Wahidiyat atau martabat hakikatul insan. Martabat Alam Arwah. Martabat Alam Mitsal dan Martabat Alam Ajsam.
Ungkapan di atas aku sandingkan dengan tulisan Syeh Fadhlullah dalam risalah At Tuhfah Ar Ruh Ila An Nabi tentang martabat tujuh.
Sekali lagi ini adalah ungkapan dan tulisan.
Perihal diriku yang berkata-kata dengan fitrah jati diriku.
Adapun apabila kemudian ada yang tersentuh,
Semata-mata adalah Siliring Qudratullah.
Sebab diriku tetap saja sebagai hamba-Nya yang al-faqir.